Portal Berita Lakpesdam Terkini – 29 Mei 2026 | Ini kali pertama saya salat Iduladha di Tiongkok: kemarin pagi. Kalau Idulfitri sudah beberapa kali. Awalnya saya lupa kalau kemarin itu Iduladha. Pukul lima pagi saya sudah ke luar hotel. Sendirian: cari-cari lokasi untuk live Dismorning pukul 06.00 waktu Nanning, Tiongkok.
Perjalanan Menuju Masjid
Taman dan halaman hotel ini terlalu rapi dan bersih: Li Yuan Resort. Sulit cari benda tercecer yang bisa dipakai untuk alas HP. Ternyata Dismorning libur. Oh, iya. Iduladha. Saya pun cari-cari di mana masjid terdekat. Di pusat kota. Di kota tua. Sedang hotel saya ini di kawasan pengembangan baru.
Yakni di kawasan pusat konferensi ASEAN. Kota Nanning, ibu kota provinsi Guangxi, sudah lama berambisi jadi ‘ibu kota’-nya Asia Tenggara. Letaknya memang sangat dekat dengan Vietnam, Laos, dan Myanmar. Segala macam konferensi tingkat ASEAN diselenggarakan di sini. Termasuk di sektor kelistrikannya – yang saya diundang menjadi salah satu pembicaranya.
Salat Iduladha di Tiongkok
Sepagi itu tidak mungkin saya membangunkan teman Tiongkok saya. Pasti masih tidur. Saya pun naik taksi aplikasi: hanya 10 menit. Belum terlambat. Salat Iduladha baru dimulai pukul 07.00. Begitu tiba di Jalan Xinhua, sudah banyak orang bergerombol di pinggir jalan.
Laki-lakinya khas pakai topi Hui, warna putih, kecil, ditaruh di bagian ubun-ubun dengan rambut bagian depan sengaja dipejengkan. Wanitanya pakai jilbab. Lama-lama jilbab wanita Islam Tiongkok mirip dengan gaya jilbab wanita Indonesia atau Malaysia. ‘Di lantai empat,’ ujar salah seorang yang saya tanya di mana salatnya.
Masjid di Tiongkok
Setelah selesai salat, saya menemui Imam. Berkenalan. Sekalian agar yang salat di lantai dua dan tiga lebih dulu memakai tangga turun. Agar tidak berdesakan. Begitulah memang pengumuman yang dikumandangkan: agar yang di lantai empat lebih bersabar. ‘Berapa korban kambing di masjid ini tahun ini?’ ‘Banyak sekali. Lebih seratus,’ ujar Pak Imam yang bermarga He (何春光).
‘Di mana pelaksanaan penyembelihan kurbannya?’ ‘Di tempat penyembelihan kambing,’ jawabnya. Di Tiongkok penyembelihan hewan memang tidak boleh di sembarang tempat. Kurban pun wujudnya uang. Panitia masjidlah yang membelikan hewannya. Di Tiongkok Iduladha disebut hari raya Gu Le Bang (古尔邦). Coba Anda ulangi dan ulangi pelan-pelan kata itu: rupanya diambil dari bahasa Arab ‘Kurban’.













Leave a Reply