Portal Berita Lakpesdam Terkini – 30 Mei 2026 | Di masjid Nanning saya bertemu banyak mahasiswa Indonesia. Laki-perempuan. Hari itu mereka juga pilih salat Iduladha di masjid Jalan Xinhua di kota lama Nanning.
Mahasiswa Indonesia di Nanning
Kota lama berada di utara sungai Yong Jiang. Kota baru dibangun di selatan sungai. Jembatan-jembatan modern yang besar dibangun di atasnya. Beberapa mahasiswa sedang kuliah D-3. Beda-beda jurusan: yang dari Jombang ambil teknik sipil. Yang dari Jambi pilih komputer. Pun yang dari Gorontalo dan Solo. Ada juga yang kuliah S-1. Bahkan Yosep Firdaus sudah S-2: jurusan fashion.
Randy Geovani Putra
Yosep pilih fashion sejak masih kuliah S-1 di Guangxi Arts University. Ia asli Surabaya: SMAN 1. Saat di SMA itulah nama belakangnya diubah menjadi Firdaus sambil tetap tidak mengubah Yosep menjadi Yusuf. Sambil menunggu jemaah yang di lantai dua dan tiga turun lebih dulu, kami duduk lesehan di atas karpet lantai empat. Salah satunya ternyata dosen. Asal Bandung. Di Nanning ia mengajar teori musik gamelan Sunda.
IA memang dosen di Guangxi Arts University. Nama lengkapnya: Randy Geovani Putra. Randy alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung yang sekarang menjadi ISBI. Lalu dapat beasiswa untuk ke Guilin Normal University: belajar bahasa Mandarin. Guilin dan Nanning (di tempat saya menulis naskah ini) satu provinsi: Guangxi.
Gamelan Sunda di Tiongkok
| Gamelan | Universitas |
|---|---|
| Gamelan Jawa | Shanghai Concervatory of Music |
| Gamelan Bali | China Concervatory of Music |
| Gamelan Sunda | Guangxi Arts University |
Jaraknya sekitar 300 km. Nanning ibu kota provinsi, Guilin “ibu kota” pariwisata –salah satu yang terbaik di dunia. Setelah lulus Bahasa Mandarin, Randy masuk sekolah musik: S-2 di universitas Guilin. Saat kuliah musik itulah ia tahu banyak universitas di Tiongkok yang mempelajari gamelan.
Mereka memiliki perangkat musik Jawa itu. Hanya saja Randy melihat belum ada prodi gamelan Sunda. Kebetulan ada workshop gamelan Sunda di Guangxi Arts University di Nanning. Randy pun ke Nanning. Setelah workshop ia bertekad merintis studi gamelan Sunda di universitas itu. Kelak, setelah Randy lulus S-2 tahun 2018 Randy diminta mengajar ilmu gamelan di GAU.
Kampung Orang Tionghoa di Nanning
Teori dan praktik. Tidak hanya Sunda. Gamelan Sunda pun didatangkan. Tiga set: salendro, pelog, dan degung. Toh sudah ada gamelan Jawa dan Bali. Bahkan universitas itu punya museum alat musik semua negara ASEAN. Randy pula yang diminta mengelola museum itu. Di dekat Nanning juga ada kampung besar orang Tiongok yang masih bisa berbahasa Jawa dan Sunda.
Mereka adalah orang kelahiran Indonesia yang akibat keharusan pilih jadi WNI atau WNT mereka pilih kembali ke Tiongkok. Itu tahun 1963-an. Tidak lama setelah itu terjadi revolusi besar di Tiongkok. Lalu juga terjadi pergolakan politik besar di Indonesia: Gestapu/PKI. Sebagian sudah dijemput kapal besar menuju Tiongkok.
Sebagian lagi sudah siap meninggalkan Indonesia: rumah dan aset sudah telanjur dijual. Tapi kapal jemputan berikutnya tidak jadi datang. Mereka yang sudah kembali ke Tiongkok nasibnya kurang baik. Tak lama setelah mereka tiba revolusi meletus. Tiongkok sedang di puncak kemiskinan. Saya pernah mendengar cerita mereka secara langsung: sangat menderita.















Leave a Reply