Portal Berita Lakpesdam Terkini – 28 Mei 2026 | Raksasa teknologi asal China, Huawei Technologies, membuktikan taringnya di panggung semikonduktor global dengan menunjukkan kemampuan mandiri dalam memproduksi chip kelas atas. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata Beijing untuk mematahkan sanksi perdagangan dari Amerika Serikat (AS) yang membatasi akses China terhadap alat manufaktur chip paling canggih di dunia.
Latar Belakang
Huawei memproyeksikan mampu mendesain chip kelas atas dengan kerapatan transistor setara dengan proses 1,4 nanometer (nm) pada 2031. Target tersebut tergolong sangat ambisius dan signifikan. Saat ini, kemampuan manufaktur chip tercanggih di China yang terbukti di pasar baru berkisar di angka 7 nanometer. Teknologi 1,4 nm diprediksi akan menjadi garda terdepan industri semikonduktor global pada akhir dekade ini.
Konsep Hukum Skala Tau
Klaim mengejutkan ini berdasarkan prinsip baru yang diperkenalkan Huawei dengan nama Tau Scaling Law (Hukum Skala Tau). Konsep ini dipaparkan Presiden Bisnis Semikonduktor sekaligus Direktur Komite Ilmuwan Huawei He Tingbo. "Hukum Skala Tau menawarkan pendekatan fungsional yang berfokus pada efisiensi tingkat sistem. Caranya dengan memotong waktu yang dibutuhkan sinyal dan data untuk bergerak di chip serta sistem komputasi," ujar He Tingbo.
Aplikasi Teknologi LogicFolding
Strategi ini bukan sekadar teori di atas kertas. Huawei mengumumkan chip smartphone Kirin generasi terbaru yang dijadwalkan meluncur pada musim gugur 2026. Produk tersebut akan menjadi yang pertama mengadopsi LogicFolding, sebuah arsitektur turunan dari Hukum Skala Tau. Teknologi LogicFolding diklaim mampu memperpendek jalur perkabelan internal di dalam chip secara signifikan. Pendekatan ini akan mendongkrak performa dan efisiensi energi secara masif.
Huawei pun bisa memproduksi chip canggih tanpa harus bergantung pada mesin litografi generasi terbaru yang saat ini diblokir Washington. Bahkan, Huawei mengatakan divisi chip mereka sebenarnya telah merancang dan memproduksi secara massal sebanyak 381 model chip selama enam tahun terakhir berbasis prinsip Hukum Skala Tau. Chip tersebut telah diimplementasikan di berbagai sektor, mulai perangkat ponsel pintar hingga sistem komputasi kecerdasan buatan (AI) yang menjadi tandingan Nvidia di pasar domestik.
Dengan kemampuan ini, Huawei membuktikan bahwa mereka dapat bersaing dengan perusahaan teknologi lain di dunia, meskipun dengan sanksi perdagangan yang diberikan oleh Amerika Serikat. Ini merupakan langkah besar bagi Huawei dan industri semikonduktor China, karena mereka dapat memproduksi chip kelas atas tanpa bergantung pada teknologi asing.














Leave a Reply