Latar Belakang Konflik
Portal Berita Lakpesdam Terkini – 18 Juni 2026 | Kirab Pusaka Malam Satu Suro di Keraton Solo pada Selasa malam (16/6) menjadi sorotan karena dua kubu yang sama-sama mengklaim sebagai Paku Buwono XIV mengikuti upacara dalam satu kompleks, tetapi duduk saling membelakangi. Peristiwa ini mencuri perhatian para abdi dalem, tamu undangan, hingga masyarakat yang mengikuti jalannya tradisi sakral Keraton Solo.
Posisi dan Busana Dua Kubu
PB XIV Mangkubumi terlihat duduk menghadap ke arah timur dengan mengenakan ageman Jawi jangkep berupa beskap cokelat, jarik motif parang, serta kalung bunga melati. Adapun PB XIV Purboyo duduk menghadap ke arah barat atau menuju Sasana Parasedya dengan mengenakan beskap bermotif bunga berwarna ungu dan jarik bermotif parang.
Agenda yang Berbeda
Meski berada dalam satu rangkaian peringatan Malam Satu Suro, kedua kubu menjalankan agenda yang berbeda. Pihak PB XIV Mangkubumi mengaku tidak menggelar haul atau khol PB X pada malam itu karena telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya. Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo KPH Eddy Wirabhumi menjelaskan perbedaan rangkaian acara menjadi salah satu alasan adanya dua prosesi yang berjalan bersamaan.
Upaya Menjaga Suasana Kondusif
Eddy menyebut pihak Keraton menjaga suasana tetap kondusif selama seluruh rangkaian tradisi berlangsung. Dia menegaskan semua pihak diminta menahan diri agar perbedaan yang ada tidak mengganggu pelaksanaan upacara adat yang menjadi warisan budaya Jawa. Meski demikian, prosesi Kirab Pusaka Malam Satu Suro tetap berlangsung dengan khidmat, diiringi doa, munajat, serta berbagai ritual adat.
Hal ini menjadi bagian penting dari tradisi Keraton Solo setiap pergantian tahun Jawa. Dengan tetap menjaga keharmonisan dan menghormati tradisi, diharapkan perbedaan antara kedua kubu tidak mengganggu makna yang lebih besar dari acara ini, yaitu memperingati Malam Satu Suro dengan penuh khidmat dan hormat.





Leave a Reply