Portal Berita Lakpesdam Terkini – 03 Juni 2026 | Kesehatan otak dan kekuatan daya ingat sering kali dianggap hanya dipengaruhi oleh faktor usia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa protein tau memegang peran yang sangat krusial dalam mengatur dan memperkuat memori manusia agar bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Peran Protein Tau dalam Mengatur Memori
Protein tau ternyata sama sekali tidak memengaruhi pembelajaran awal dan kemampuan ingatan jangka pendek seseorang. Hal ini menurut sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Nature Communications. Tim peneliti dari Flinders University mengatakan bahwa otak sebenarnya masih bisa membentuk ingatan tanpa kehadiran protein tau. Hanya saja, memori yang tercipta tanpa protein tersebut akan lebih lemah, rapuh, dan cepat terlupakan.
Bagaimana Protein Tau Bekerja
Melalui uji coba pada tikus, para ilmuwan berhasil memetakan bagaimana protein ini bekerja menjaga ingatan. Protein tau bertindak sebagai pengatur sel engram, sekelompok neuron khusus yang merekam jejak fisik ingatan. Selama pengodean memori berlangsung, protein ini membantu menentukan neuron mana saja yang paling tepat untuk menyimpan informasi tersebut.
Protein tau juga berfungsi mencegah terjadinya aktivitas berlebihan atau semacam gangguan “kebisingan” di otak. Dengan meredam gangguan tersebut, otak hanya akan memilih sel-sel spesifik yang diperlukan, sehingga memori yang dihasilkan menjadi jauh lebih jernih dan stabil.
Proses Fosforilasi dan Kesehatan Otak
Aktivitas sel engram ini dikoordinasikan oleh sebuah proses modifikasi kimia halus pada tau yang dikenal sebagai fosforilasi. Studi ini memberikan sudut pandang baru mengenai kesehatan otak. Selama ini, proses fosforilasi tau yang tidak normal atau cacat selalu diidentifikasi sebagai pemicu utama penyakit Alzheimer.
Namun, penelitian ini membuktikan bahwa fosforilasi dalam tingkat rendah dan terkontrol justru sangat dibutuhkan agar otak bisa berfungsi dengan normal. Ketika protein tau berubah menjadi bentuk yang berkaitan dengan penyakit, kemampuan otak untuk membentuk ingatan baru atau memanggil kembali memori lama akan langsung terhambat.
Temuan ini mengarahkan para ilmuwan pada kesimpulan bahwa kasus kehilangan ingatan pada penderita demensia kemungkinan besar terjadi akibat terganggunya sistem pengorganisasian dan pemanggilan memori, bukan semata-mata karena rusaknya tempat penyimpanan memori itu sendiri.














Leave a Reply