Portal Berita Lakpesdam Terkini – 15 Mei 2026 | Intermittent fasting atau puasa intermiten bukan sekadar tren diet untuk menurunkan berat badan, melainkan strategi ampuh menekan risiko kanker. Pola makan yang mengatur jendela waktu berpuasa dan makan ini dinilai mampu mengoptimalkan metabolisme tubuh dalam menangkal penyakit mematikan tersebut.
Mekanisme Pembersihan Alami Tubuh
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Wisaksono Sudoyo menyebut rahasia kehebatan puasa intermiten terletak pada mekanisme pembersihan alami tubuh. Saat perut kosong dalam waktu lama, tubuh akan mencari energi dan mulai mengonsumsi sel beracun serta sel pra-kanker yang baru akan tumbuh.
"Badan akan mengambil sel-sel toksik dan tidak berguna untuk dijadikan energi. Kita berharap sel kanker yang baru mulai muncul justru dimakan tubuh kita sendiri," ujarnya.
Pilihan Pola Puasa Intermiten
Ada beberapa pilihan pola yang bisa kamu terapkan sesuai kenyamanan. Metode 16/8, berpuasa selama 16 jam dan memiliki jendela makan selama 8 jam. Diet OMAD (One Meal a Day), hanya makan besar satu kali dalam sehari. Puasa frekuensi bisa dilakukan selang-seling atau rutin lima hari dalam seminggu.
Pentinya Mengombinasikan Makanan Sehat
Aru mengatakan manfaat puasa akan sia-sia jika jendela makan diisi dengan makanan tidak bergizi. Dia menekankan pentingnya mengombinasikan sayur, buah, protein, dan membatasi asupan karbohidrat. "Kurangi konsumsi daging merah dan hindari ultra-processed food yang sarat bahan tambahan kimia," katanya.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari puasa intermiten, perlu diingat bahwa kualitas makanan juga sangat penting. Makanan yang seimbang dan bergizi akan membantu tubuh dalam proses pembersihan dan pembangunan kembali sel-sel yang sehat.















Leave a Reply