Portal Berita Lakpesdam Terkini – 06 Juni 2026 | Berbagai isu sensitif menjadi batu sandungan besar yang membuat Amerika Serikat (AS) dan Iran sulit berdamai. Meski kedua belah pihak terus menjajaki nota kesepahaman demi mencegah konflik berkepanjangan, jalan menuju perdamaian abadi tidaklah mudah.
Blokade Selat Hormuz dan Jalur Maritim Teluk
Pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi prioritas utama bagi Washington sekaligus posisi tawar terbesar bagi Teheran. Sejak perang meletus, Iran menutup selat ini dan meluncurkan serangan rudal serta drone terhadap negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.
Akibatnya, dunia menghadapi guncangan pasokan minyak yang memicu lonjakan harga bahan bakar, pangan, dan pupuk global. Di sisi lain, blokade militer AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga sangat memukul pendapatan negara dan ekspor minyak Iran sendiri.
Masa Depan Program dan Pengayaan Uranium Nuklir
Presiden AS Donald Trump ingin memastikan Iran tidak pernah memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir. Isu nuklir ini menjadi agenda paling rumit dalam negosiasi. Meski serangan militer gabungan AS-Israel sebelumnya telah menghancurkan tiga fasilitas pengayaan uranium utama Iran, sebagian besar cadangan uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Iran diyakini masih utuh.
Saat ini Iran telah memperkaya sebagian uraniumnya hingga tingkat kemurnian 60%, jauh melampaui level 5% yang biasa digunakan untuk pembangkit listrik sipil. Iran juga memiliki stok cadangan pada level kemurnian 20%, 5%, dan 2%.
Pembatasan Rudal Balistik Iran
AS secara konsisten menuntut agar Iran membatasi daya jangkau rudal balistiknya, terutama agar tidak bisa mencapai wilayah Israel. Bagi Iran, tuntutan ini sulit diterima. Teheran selalu mengatakan hak mereka untuk memiliki senjata konvensional demi pertahanan negara menjadi sesuatu yang non-negosiasi.
Hingga saat ini, Iran dilaporkan masih mempertahankan gudang persenjataan rudal dalam jumlah besar.
Pencabutan Sanksi Ekonomi dan Pencairan Aset
Perekonomian Iran telah babak belur akibat sanksi internasional selama bertahun-tahun. Demi menyelamatkan ekonominya, Teheran menuntut agar sanksi komersial dan pembatasan ekspor minyak mentah segera dicabut. Iran mendesak pencairan dana pendapatan minyak senilai puluhan miliar dolar yang selama ini dibekukan di berbagai bank asing.
Iran juga menuntut ganti rugi atau reparasi atas kerusakan infrastruktur yang terjadi akibat perang. Dengan demikian, proses perdamaian antara AS dan Iran masih terganjal oleh berbagai isu sensitif yang sulit diatasi.














Leave a Reply