Portal Berita Lakpesdam Terkini – 20 Juni 2026 | Masyarakat Jawa Tengah diminta bersiap menghadapi suhu udara yang makin dingin pada malam hingga pagi hari jelang puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan sebagian besar wilayah Jawa Tengah telah memasuki musim kemarau.
Ciri-ciri Musim Kemarau
Cirinya adalah suhu dingin pada malam dan pagi hari, sementara siang hari terasa lebih panas dan terik. Teguh menjelaskan sejumlah wilayah Jawa Tengah, khususnya Cilacap dan sekitarnya, sudah masuk musim kemarau.
“Suhu udara malam dan pagi hari lebih dingin dibanding biasanya, sedangkan siang hari terasa lebih menyengat karena tutupan awan semakin sedikit,” ujar Teguh.
Perkiraan Suhu Udara
Pihaknya memperkirakan kondisi udara dingin ini akan semakin terasa menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus. Dia membeberkan wilayah dataran tinggi seperti Cilacap bagian barat, Banyumas, dan daerah pegunungan lain berpotensi mengalami suhu yang lebih rendah dibanding kawasan pesisir selatan.
Fenomena Alamiah
Berdasarkan catatan periode 1991-2020, suhu minimum absolut di Cilacap pernah mencapai 18,8 derajat celsius pada Juni 1994. Bahkan, suhu terendah pernah tercatat terjadi pada Agustus 1994, yakni hanya 17,4 derajat celsius.
| Tahun | Suhu Minimum |
|---|---|
| 1994 | 18,8 derajat celsius |
| 1994 | 17,4 derajat celsius |
Meski suhu minimum yang terpantau pada 19 Juni 2026 masih berada di kisaran 24 derajat celsius, BMKG memperkirakan suhu dapat terus menurun seiring menguatnya musim kemarau.
Peringatan Masyarakat
Selain udara dingin, masyarakat juga diminta mewaspadai kemunculan kabut pada malam hingga pagi hari yang kerap muncul saat musim kemarau. “Fenomena ini umum terjadi pada malam hingga pagi hari dan biasanya akan menghilang setelah matahari terbit serta suhu mulai menghangat,” beber Teguh.
Di sisi lain, pihaknya mengingatkan musim kemarau tidak hanya menghadirkan suhu dingin, tetapi juga meningkatkan risiko kekurangan air bersih dan kebakaran lahan. “Perlu antisipasi dini terhadap dampak musim kemarau seperti kekurangan air bersih dan kebakaran lahan agar penanganannya bisa dilakukan lebih cepat,” jelas Teguh.
Masyarakat Jawa Tengah harus bersiap-siap menghadapi musim kemarau yang akan semakin parah dalam beberapa bulan ke depan. Dengan memahami ciri-ciri musim kemarau dan melakukan antisipasi dini, masyarakat dapat mengurangi dampak negatif musim kemarau dan menjaga keselamatan diri dan lingkungan.










Leave a Reply