Portal Berita Lakpesdam Terkini – 11 Juni 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebanyak 56 persen wilayah daratan Indonesia diprediksi mengalami kemarau jauh lebih kering dibandingkan kondisi rata-rata. Persentase ini artinya sebanyak 482 Zona Musim (ZOM) mengalami kemarau di bawah normal.
Kondisi Kemarau di Indonesia
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan kondisi ini akan melanda sebagian besar wilayah padat penduduk dan sentra pertanian nasional, terutama di kawasan selatan khatulistiwa. Wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal meliputi sebagian Sumatra, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Dampak Kemarau
BMKG mencatat gelombang kekeringan mulai meluas sejak akhir Mei 2026. Awalnya, kondisi kering terdeteksi di 200 zona musim. Namun, pada Juni ini wilayah terdampak diperkirakan melonjak tajam dengan tambahan 198 zona musim baru, termasuk sebagian wilayah DKI Jakarta, Jawa, hingga Kalimantan.
Situasi diprediksi makin meluas pada Juli ketika kemarau merambah puluhan zona musim lainnya di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku Utara. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ancaman kekurangan air bersih, penurunan produksi pertanian, serta risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah rawan.
Perbandingan dengan Tahun-Tahun Sebelumnya
BMKG menegaskan kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dibandingkan pola iklim normal dalam tiga dekade terakhir. Karakteristik wilayah yang terdampak umumnya memiliki pola hujan monsunal dengan perbedaan sangat tajam antara musim hujan dan musim kemarau.
BMKG menemukan anomali di 7 zona musim atau sekitar 0,68 persen wilayah Indonesia yang justru diprediksi mengalami kondisi lebih basah dari normal. Wilayah tersebut berada di sebagian Bengkulu, Gorontalo, dan beberapa area kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Oleh karena itu, BMKG meminta pemerintah daerah segera menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan yang lebih parah. Langkah-langkah tersebut dapat berupa peningkatan kesiapan sumber daya air, pengelolaan lahan yang lebih baik, dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi air.
| No | Wilayah | Kondisi Kemarau |
|---|---|---|
| 1 | Sumatra | Kemarau di bawah normal |
| 2 | Pulau Jawa | Kemarau di bawah normal |
| 3 | Kalimantan | Kemarau di bawah normal |
| 4 | Bali | Kemarau di bawah normal |
| 5 | NTB | Kemarau di bawah normal |
| 6 | NTT | Kemarau di bawah normal |
| 7 | Sulawesi | Kemarau di bawah normal |
| 8 | Maluku | Kemarau di bawah normal |
| 9 | Papua | Kemarau di bawah normal |
Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemarau yang lebih kering dan berpotensi membahayakan. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesiapan dan kesadaran akan pentingnya konservasi air dan pengelolaan lahan yang baik. Siap-siap! Malam dan Pagi di Jawa Tengah Suhu Makin Dingi…










Leave a Reply