Portal Berita Lakpesdam Terkini – 09 Mei 2026 | Toko buku fisik di China telah bertransformasi menjadi ruang arsitektur yang memukau, di mana pengunjung datang tidak untuk membaca, tetapi berburu foto demi konten media sosial.
Desain Interior Mewah
Toko buku Zhongshuge di Tianjin menjadi pusat perhatian berkat interiornya yang megah. Dengan tangga spiral yang fantastis dan pilar-pilar raksasa setinggi tiga lantai, toko ini sering dibandingkan dengan aula sekolah sihir Hogwarts dalam film Harry Potter.
Fenomena ini menarik kerumunan orang yang membawa tongsis dan tripod. Bahkan, pengelola memasang tanda di lantai bertuliskan “The Best Spot for Photos” (Titik Foto Terbaik) untuk mengakomodasi kebutuhan para pemburu selfie.
Investasi pada Desain Interior
Arsitek Zheng Shiwei mengatakan bahwa investasi pada desain interior yang “Instagrammable” kini telah menjadi arus utama. Hal itu didasari realitas ekonomi bahwa menjual buku saja tidak lagi cukup untuk menopang biaya operasional toko.
Dampak pada Pengunjung
Foto-foto yang viral di internet dianggap sebagai promosi gratis yang efektif menarik pengunjung baru. Meski tren ini menyelamatkan toko buku dari kebangkrutan, ada harga yang harus dibayar.
Kehadiran kerumunan orang yang berpose kerap mengganggu ketenangan pengunjung yang benar-benar ingin membaca. Toko buku Librairie Avant-Garde di Nanjing melarang penggunaan lampu kilat (flash), tripod, dan sesi pemotretan tanpa izin karena dianggap mengganggu kenyamanan pengunjung.
Beberapa area mulai membatasi akses bagi orang yang hanya ingin berfoto tanpa ada niat membeli atau membaca. Toko buku harus menemukan keseimbangan antara kebutuhan para pemburu selfie dan pengunjung yang ingin menikmati buku. Membangun Pernikahan Mesra: Pahami Kebutuhan Diri Sendiri Kuat dan Tegar Seperti Atalia Praratya, 3 Cara Menata Mas…















Leave a Reply