Portal Berita Lakpesdam Terkini – 18 Juli 2026 | Komisi XII DPR mendesak pemerintah mengevaluasi selisih harga BBM subsidi dengan nonsubsidi. Sebab, disparitas yang terlalu besar, dikhawatirkan memicu pergeseran konsumsi warga dan berisiko terjadi penyalahgunaan BBM subsidi.
Latar Belakang
Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya menyoroti perbedaan harga yang cukup tinggi, yakni Solar subsidi dan Pertamina Dex. “Solar Rp 6.800, sedangkan Dex Rp 21.000 sekian. Selisih harganya terlalu jauh,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7).
Dampak Selisih Harga
Politikus Partai Golkar itu menyampaikan disparitas tersebut juga meningkatkan tekanan terhadap kuota BBM subsidi, dan menimbulkan antrean di sejumlah SPBU. Dia mencontohkan di Kepulauan Bangka Belitung, yang punya aktivitas tambang cukup tinggi. Pembelian BBM subsidi di daerah itu, masih menjadi tantangan.
“Bangka Belitung yang antre (beli BBM) kadang-kadang bukan pengguna. Ada orang-orang yang memanfaatkan ekonomi, dari selisih harga,” ujarnya.
Tindakan yang Dibutuhkan
Bambang menekankan BBM subsidi, harus benar-benar disalurkan kepada mereka yang berhak. Dia juga mendesak pemerintah mengevaluasi ketentuan batas volume pembelian harian BBM subsidi, khususnya kendaraan roda enam ke atas.
“Evaluasi batasan pembelian harian BBM subsidi ini, supaya mengantisipasi penyalahgunaan,” ucapnya.
Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap kebijakan BBM subsidi, agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan, serta mencegah penyalahgunaan.














Leave a Reply