Portal Berita Lakpesdam Terkini – 21 Mei 2026 | Perjalanan ke kepulauan Banda dimulai dengan kekhawatiran tentang sidang pleno DPR yang berlangsung bersamaan dengan hari Kebangkitan Nasional ke-118. Namun, saya memutuskan untuk meneruskan cerita perjalanan ke Banda karena tidak ingin membahas prediksi isi pidato Presiden Prabowo yang akan disampaikan pada sidang pleno tersebut.
Perjalanan ke Banda
Tiket pesawat Ambon-Banda tidak bisa dipesan dari Jakarta atau Surabaya, sehingga saya harus langsung bertanya tentang loket tiket pesawat ke Banda setelah mendarat di Ambon. Petugas bandara Pattimura mengarahkan saya ke loket Smart Aviation, yang merupakan perusahaan penerbangan tidak berjadwal milik Pongky Majaya. Sayangnya, tidak ada pesawat ke Banda Naira pada hari itu, dan pesawat keesokan harinya sudah penuh.
Untungnya, masih ada kapal dari Ambon ke Banda. Saya memiliki tiga pilihan: kapal Pelni yang memakan waktu sembilan jam, kapal kayu yang memakan waktu 12 jam, atau kapal cepat yang memakan waktu lima jam. Saya memilih kapal cepat Cantika88, yang mirip dengan kapal cepat Batam-Singapura.
Rujak Ambon
Setelah membeli tiket kapal cepat, saya memutuskan untuk mencari makanan kecil karena sudah pukul 15.00. Saya mencari rujak Ambon, yang belum pernah saya makan sebelumnya. Tempat rujaknya terletak di Tulehu, bagian dari pulau Ambon yang menghadap ke pulau Saparua. Di pantai Natsepa, ada lebih dari 25 penjual rujak Ambon yang dideretkan di pantai.
Saya memilih rujak Ambon dengan feeling, tanpa memikirkan terlalu lama. Kekhasan rujak Ambon ternyata terletak pada rasa asam-sepatnya, yang didatangkan dari daging buah pala yang diparut. Rujak Ambon juga tidak menggunakan acan atau trasi, dan gula aren dari Sulawesi digunakan sebagai pemanis. Kacang tanahnya digoreng dengan minyak yang murah hati.
Perjalanan ke Banda
Setelah menikmati rujak Ambon, saya kembali ke kota Ambon dan melewati bagian dasar huruf “U” teluk Ambon. Di situlah resto apung terbesar di Ambon berada. Pemilik resto itu masih famili dengan pemilik perusahaan kapal Cantika. Saya memesan papeda dengan kuah ikan kuning, ikan bakar dabu-dabu, sayur bunga pepaya, kangkung, dan jus pala.
Setelah makan malam, saya menuju hotel dan tidur. Pagi-pagi, saya harus ke Tulehu lagi untuk berangkat ke Banda menggunakan kapal cepat. Saya menyesal membeli tiket termahal, karena kabin untuk kelas terbaik ternyata terletak di bagian atas-depan kapal, yang membuat saya merasa pusing karena goyangan ombak.
Setelah tiba di Banda, saya belum tahu akan bermalam di hotel apa. Saya meminta mobil yang menawarkan diri untuk mengantar saya keliling kota, sehingga saya bisa membandingkan hotel mana yang memenuhi selera. Pilihan saya jatuh ke hotel di depan Benteng Banda, yang relatif baru tapi dibangun dengan arsitektur kolonial dari zaman VoC.














Leave a Reply