Piala Dunia 2026 dan Harapan Suporter
Portal Berita Lakpesdam Terkini – 13 Juli 2026 | Perhelatan Piala Dunia 2026 menyisakan kisah pilu bagi banyak suporter dari negara berkembang. Mustafa Al Saadi dan tiga rekan kerjanya di rumah sakit selalu bepergian ke luar negeri bersama demi mendukung tim nasional sepak bola Irak. Ketika Irak mencetak sejarah dengan lolos Piala Dunia 2026, rencana indahnya mendadak buyar. Ketiga temannya berhasil melenggang masuk ke stadion di Philadelphia, Amerika Serikat (AS), Al Saadi justru tertinggal di Mosul. Permohonan visanya tertahan tanpa kejelasan.
Rasanya sangat sedih melihat teman-teman dekatmu bisa hadir langsung di sana, sementara saya tidak, ungkap Al Saadi. Piala Dunia 2026 sebenarnya dirancang menjadi turnamen paling inklusif dalam sejarah FIFA dengan debutnya negara-negara seperti Cape Verde, Yordania, Uzbekistan, dan Curacao.
Tantangan Birokrasi
Namun, lolos kualifikasi di lapangan hijau ternyata tidak menjamin para pendukung, jurnalis, dan personel turnamen bisa menembus gerbang imigrasi negara tuan rumah. Suporter dari sekitar seperempat negara peserta harus menghadapi pembatasan perjalanan, pemeriksaan ketat, dan tingginya angka penolakan visa dari AS. Kebijakan imigrasi AS ini sempat menuai kritik dari Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk.
Turk mengatakan aturan ketat tersebut bisa merusak esensi inklusivitas Piala Dunia. Meski AS akhirnya mencabut aturan jaminan visa sebesar USD 15.000 untuk lima negara peserta (Aljazair, Cape Verde, Pantai Gading, Senegal, dan Tunisia) setelah didesak FIFA, para suporter tetap harus melewati wawancara yang rumit.
Dampak Birokrasi
Berbeda dengan Rusia (2018) atau Qatar (2022) yang menyediakan izin masuk khusus turnamen, trio tuan rumah Amerika Utara (AS, Kanada, Meksiko) tetap memakai sistem visa reguler. Dampak dari ketatnya birokrasi ini tidak hanya dirasakan suporter, tetapi juga awak media. Jurnalis asal Ghana Prince Ayim Brown telah menabung lama dan mengambil pekerjaan sampingan demi meliput turnamen ini.
Nahas, visanya ditolak Kedutaan Besar AS tanpa penjelasan apa pun. Piala Dunia menjadi puncak dari sepak bola. Setiap jurnalis dan penggemar ingin berada di sana, kata Prince. Nasib serupa menimpa Assane Ly, seorang pedagang dari Dakar. Alih-alih merasakan langsung atmosfer keberagaman budaya di Amerika, dia terpaksa menonton laga pembuka Senegal melawan Prancis lewat layar raksasa di Universitas Cheikh Anta Diop.
Piala Dunia seharusnya menjadi momen ketika geopolitik dikesampingkan. Negara tuan rumah semestinya menyambut semua orang tanpa memandang kebangsaan, warna kulit, dan agama, tutur Assane.
Refleksi dan Harapan
Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi kesempatan bagi seluruh penggemar sepak bola di seluruh dunia untuk bersatu dan menikmati turnamen ini. Namun, kenyataannya, banyak suporter dari negara berkembang yang tertinggal karena birokrasi yang rumit dan ketat. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang inklusivitas dan kesetaraan dalam dunia sepak bola.
Di masa depan, diharapkan bahwa turnamen sepak bola dapat lebih terbuka dan inklusif, sehingga semua penggemar dapat menikmati dan merayakan sepak bola tanpa dibatasi oleh birokrasi dan geopolitik. Piala Dunia 2026 harus menjadi momentum untuk memperbaiki dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya inklusivitas dan kesetaraan dalam dunia olahraga.
| Negara | Tim Nasional | Piala Dunia 2026 |
|---|---|---|
| Irak | Tim Nasional Sepak Bola Irak | Lolos Kualifikasi |
| Cape Verde | Tim Nasional Sepak Bola Cape Verde | Lolos Kualifikasi |
| Yordania | Tim Nasional Sepak Bola Yordania | Lolos Kualifikasi |
| Uzbekistan | Tim Nasional Sepak Bola Uzbekistan | Lolos Kualifikasi |
| Curacao | Tim Nasional Sepak Bola Curacao | Lolos Kualifikasi |













Leave a Reply